Kemaren Ra mimpi, Ra lagi jalan d’sebuah lorong kecil dan gelap. Ra ga bisa liat apa-apa, Ra jalan sambil m’raba-raba. Ra ga tahu arah…

Lorong itu gelap dan pengap. Bikin Ra sulit b’nafas. Ra cuma bisa b’jalan pelan-pelan d’sisi tembok’na. Sunyi. Yang kedengeran cuma suara nafas dan langkah kaki Ra yang k’seret-seret.

Ra ga tahu lorong ini akan abis di mana dan sampai sejauh apa. Yang Ra lakukan cuma terus b’jalan. B’harap ada jalan keluar.

Sampai kemudian, Ra liat sesuatu. Ada cahaya. Indah banget…

Ra pun lari. Terus sekuat tenaga ke arah titik indah itu, ke arah cahaya itu. Ra ga tahu ada apa di sana, dan Ra ga peduli. Ra cuma mau ke sana, ke tempat yang Ra pikir jauh lebih baik dari tempat Ra sekarang.

Jalan Ra ga lagi m’raba-raba. Ra bahkan lari. Ra ga peduli rasa capek Ra. Ra jatuh beberapa kali, tapi Ra langsung bangkit dan terus b’lari lagi. Ra ga peduliin kaki Ra yang berdarah, tangan Ra yang lecet2, Ra terus b’lari.

Tapi, cahaya itu malah makin jauh. Semakin kenceng Ra coba lari, semakin cepet cahaya itu pergi. Tapi Ra ga m’nyerah, Ra terus lari dan lari. Ra ga peduli apapun, Ra cuma mau ke sana. Ra mau cahaya itu…

Sampai kemudian ada hal aneh terjadi. Ra jatuh, entah untuk yang k’berapa kalinya. Dan Ra bener-bener takut cahaya itu bakal hilang dari pandangan Ra. Tapi ternyata, cahaya itu juga b’henti. Baru Ra sadari. Ra lari dan dia menjauh. Ra b’henti, dan dia ikut berhenti.

Sekarang Ra ngerti, Ra ga perlu lari lagi. Ra pun b’jalan pelan ke arahnya. Dan dia berhenti.

Ya, cahaya itu ga menjauh lagi. Ra terus b’jalan. Sampe kemudian Ra baru sadar kalo Ra udah keluar dari lorong gelap itu, dan masuk ke sebuah ruangan amat besar yang ga kelihatan di mana batasnya. Dan cahaya itu…begitu dekat.

Ra berjalan perlahan. Dan Ra sadari kemudian kalo cahaya itu datang dari…sebuah lilin. Lilin yang hampir habis. Ternyata…Ra salah. Terlalu lama Ra b’lari, dan Ra t’lambat m’nyadari. Ra sampe di sana, tempat yang Ra pikir jadi tujuan akhir Ra, dan lilin itu…mati. Habis.

Ra t’diam. Kembali kedinginan dan sendirian dalam gelap. Ra ga tahu Ra mesti ngapain. Ra ngerasa kosong. Ra hilang arah…

Dan beberapa cahaya lain muncul. Tapi Ra ga mw beranjak dari sana. Ra ga mw kemana-mana.

Ra ngerasa begitu lelah. Ra ngerasa begitu yakin kalo cahaya itu cuma lilin lain yang juga akan habis begitu Ra sampai di sana.

Kehilangan satu cahaya menghancurkan semua harapan yang Ra pikir bisa Ra percaya. Ra kehilangan tujuan. Ra kehilangan kepercayaan. Ra butuh sesuatu untuk mengisi kekosongan.

Ra masih ga tahu apa itu. Ra ga tahu apa yang Ra butuh. Ra ga tahu apa tujuan Ra berikutnya. Ra cuma mau itu selesai…di sana…di saat itu juga.

Dan Ra pun t’bangun. Limbung. Ra m’rasakan kekosongan yang sama. Kebingungan tentang arah dan tujuan.

Untuk apa Ra di sini? Untuk siapa Ra di sini? Otak Ra kusut. Bangun dari mimpi itu ga menyelesaikan apapun. Ra tetap bimbang. Ra tetap merasa hilang.

Kosong. Ra perlu tujuan…